Jumat, 19 April 2013

CIRI-CIRI BUDAYA POLITIK


CIRI-CIRI BUDAYA POLITIK

Pengertian budaya politik :
Samuel Beer, budaya politik adalah nilai-nilai keyakinan dan sikap-sikap emosi tentang bagaiman pemerintahan seharusnya dilaksanakan dan tentang apa yang harus dilakukan oleh pemerintah.

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, budaya politik adalah suatu sikap orientasi yang khas dari warga negara terhadap sistem politik dengan aneka ragam  bagiannya dan sikap  terhadap peranan warga negara yang ada dalam sistem itu.

Rusdi Sumintapura, budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan plitik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.

Mochtar Masud dan Colin McAndrews, budaya politik adalah sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap kehidupan pemerintahan negara dan politiknya.

Larry Diamond, budaya politik adalah keyakinan, sikap, nilai, ide-ide, sentimen, dan evaluasi suatu masyarakat tentang sistem politik negara mereka dan peran masing-masing individu dalam sistem itu.

            Menurut Almond dan Powell ada 2 orientasi Politik yaitu tingkat Masyarakat dan tingkat Individu :

1.      Orientasi individu dalam system politik  dapat dilihat dari 3 komponen :

a. Orientasi kognitif berbagai keyakinan dan pengetahuan seseorang tentang :
-          system politik.
-          tokoh pemerintahan
-          kebijakan pemerintahan
-          Simbol-simbol yang dimiliki oleh system politik seperti: ibukota negara, lambang negara, kepala negara, batas negara, mata uang, dll.

b. Orientasi Afektif menunjuk pada aspek perasaan atau ikatan emosional individu pada system politik. Seperti perasaan khusus terhadap aspek system politik tertentu yang membuatnya menerima dan menolak system politik. Orientasi afektif ini dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan.       

c. Orientasi Evaluatif berkaitan dengan penilaian moral seseorang terhadap sistem politik, kinerja sistem politik, komitmen terhadap nilai dan   pertimbangan politik.                                                   
2.      Orienrtasi Tingkat masyarakat adalah pandangan dan sikap sesama warga negara yang meliputi rasa percaya dan permusuhan antar individu, kelompok maupun golongan.  Sikap saling percaya menumbuhkan saling kerja sama sedang sikap permusuhan menimbuklkan konflik.

CIRI-CIRI BUDAYA POLITIK
1.      Budaya Politik Parokial ( parochial Political Culture) :
            Cirinya :  -    Lingkupnya sempit dan kecil
-       Masyarakatnya sederhana dan tradisional bahkan buta huruf. petani dan buruh tani.
-       Spesialisasi kecil belum berkembang.
-       Pemimpin politik  biasanya berperan ganda bidang ekonomi, agama dan budaya.
-       masyarakatnya cenderung  tidak menaruh minat terhadap objek politik yang luas.
-       masyarakatnya tinggal di desa terpencil di mana kontak dengan system politik kecil.
2.      Budaya Politik Subjek (subject Political Culture) :
            Cirinya :   -      Orang secara pasif patuh pada pejabat pemerintahan dan
undang-undang.
-          Tidak melibatkan diri pada politik atau golput.
-          masyarakat mempunyai minat, perhatian, kesadaran terhadap system politik.
-          Sangat memperhatikan dan tanggap terhadap keputusan politik, atau output
-          Rendah dalam input kesadaran sebagai actor politik belum tumbuh.

3.      Budaya Politik Partisipan (participant Political culture) :

            Sebagai insan politik, kegiatan-kegiatan politik yang dapat dilakukan sebagai wujud partisipasi politik, antara lain :
a.       Membentuk organisasi politik atau  menjadi anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dapat mengontrol maupun memberi input terhadap setiap kebijakan pemerintah.
b.      Aktif dalam proses pemilu, seperti berkampanye, menjadi pemilih aktif, dan menjadi anggota perwakilan rakyat.
c.       Bergabung dalam kelompok-kelompok kepentingan kontemporer, seperti unjuk rasa secara damai tidak anarkis atau merusak, petisi, protes, dan demonstrasi.

Cirinya :  - Kesadaran masyarakat bahwa dirinya dan orang lain anggota
aktif dalam kehidupan politik.                          
-    Melibatkan diri dalam system politik sangat berarti walaupaun hanya sekedar memberikan suara dalam pemilu.                     
-    Tidak menerima begitu saja terhadap keputusan, kebijakan system  politik
-    Dapat menilai dengan penuh kesadaran  baik input maupun output bahkan posisi dirinya sendiri.                  

Menurt Muhtar Masoed dan Colin MacAndrews ada 3 model  budaya politik :
a.         Model masyarakat demokratis industrial Yang terdiri dari aktivis politik, kritikus politik.( Identik dengan budaya politik partisipan).
b.        Model Sistem politik otoriter rakyat sebagai subyek yang pasif, tunduk pada hukumnya tapi tidak melibatkan diri dalam urusan politik dan pemerintahan (Identik dengan budaya politik subjek).
c.         Model masyarakat system demokratis  pra –industrial masyarakat pedesaan, petani, buta hurup, kontak politik sangat kecil, (budaya politik Parokial).

BUDAYA POLITIK DI INDONESIA
Herbert Feith, Indonesia memiliki 2 budaya politik yang dominan :
            1. Aristokrasi Jawa
            2. Wiraswasta Islam

Clifford Geertz, Indonesia memiliki 3 subbudaya yaitu :
1.      Santri : pemeluk agama islam yang taat yang terdiri dari pedagang di kota dan petani     yang berkecukupan.
2.      Abangan : yang terdiri dari petani kecil.
3.      Priyayi : golongan yang masih memiliki pandangan hindu budha, yang kebanyakan dari golongan terpelajar, golongan atas penduduk kota terutama golongan pegawai.

Afan Gaffar, budaya politik indonesia memiliki 3 ciri dominan :
1.      Hirarki yang tegar/ketat : adanya pemilahan tegas antar penguasa (wong Gedhe) dengan rakyat kebanyakan ( wong cilik).
2.      Kecendrungan Patronage ( hubungan antara orang berkuasa dan rakyat biasa) seperti majikan   majikan dengan buruh.
3.      Kecendrungan Neo Patrimonialistik, yaitu perilaku negara masih memperlihatkan tradisi dan budaya politik yang berkarakter patrimonial.

 Menurut Max Weber,dalam negara yang patrimonialistik penyelenggaraan pemerinbtahan berada dibawah kontrol langsung pimpinan negara.  Menurutnya karakteristik negara patrimonialistik adalah :
a)      Cenderung mempertukarkan sumber daya yang dimiliki seseorang penguasa kepada teman-temannya.
b)      Kebijakan sering kali lebih bersifat partikularistik dari pada bersifat universalistik.
c)      Rule of Law lebihbersifat sekunder bila dibandingkan dengan kekuasaan penguasa (rule of man)
d)     Penguasa politik sering kali mengaburkan antara kepentingan umum dan kepentingan publik.
            Di masa Orde Baru kekuasaan patrimonialistik telajh menyebabkan kekuasaan tak terkontrol sehingga negara menjadi sangat kuat sehingga peluang tumbuhnya civil society terhambat.  Contoh budaya politik Neo Patrimonialistik adalah :
a.         proyek di pegang pejabat.
b.        Promosi jabatan tidak melalui prosedur yang berlaku ( surat sakti).
c.         Anak pejabat menjadi pengusaha besar, memamfaatkan kekuasaan orang tuanya    dan mendapatkan perlakuan istimewa.
d.        anak pejabat memegang posisi strategis baik di pemerintahan maupun politik    
Nazarudin Samsudin, menyatakan dalam sebuah budaya ciri utama yang menjadi identitas adalah sesuatu nilai atau orientasi yang menonjol dan diakui oleh masyarakat atau bangsa secara keseluruhan.  Jadi simbol yang selama initelah diakui dan dikenal masyarakat adalah Bhineka Tunggal Ika, maka budaya politik kita di Indonesia adakah Bhineka Tunggal Ika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar