Kamis, 04 April 2013

Karakteristik Sejarah



BAB I
PENDAHULUAN

Istilah sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata syajara dan syajarah. Syajara berarti terjadi dan syajarah berarti pohon yang kemudian diartikan silsilah. Syajarah dalam arti silsilah berkaitan dengan babad, tarikh, mitos, dan legenda. Istilah syajarah diserap oleh bahasa-bahasa lain menjadi historia (Latin), history (Inggris), histoire (Perancis), geschiedenis (Belanda), dan lain-lain. Kata syajarah yang telah berubah menjadi sejarah masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia melalui bahasa Melayu.
Arti harfiah syajarah melahirkan sejarah dalam pengertian sempit, yaitu silsilah, asal-usul atau riwayat. Pada awal perkembangan pengetahuan, sejarah dalam pengertian sempit itulah yang dipahami secara umum oleh masyarakat. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sejarah pun mengalami perkembangan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Karakteristik Sejarah
Selain memiliki ciri-ciri sebagai ilmu, sejarah (sebagai kisah) juga memiliki karakter tersendiri. Karakteristik sejarah yang paling mendasar adalah:
a.)    Sifat Peristiwa
Sifat peristiwa sejarah menyangkut hakekat dan makna peristiwa serta keunikan peristiwa.
1)      Hakekat dan Makna Peristiwa
Seperti telah disebutkan, obyek sejarah sebagai ilmu adalah peristiwa. Akan tetapi, tidak segala peristiwa termasuk ke dalam lingkup sejarah (sebagai kisah). Peristiwa yang menjadi obyek kajian ilmu sejarah hanya peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia secara langsung, dan memiliki signifikansi (arti/makna penting) serta besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia secara luas. Hal itu berarti, sejarah adalah ilmu tentang manusia, tepatnya ilmu tentang pengalaman dan kiprah manusia di masa lampau.
2)      Keunikan Peristiwa
Selain hakekat dan makna peristiwa, studi sejarah juga ditujukan pada keunikan peristiwa. Keunikan itu mungkin menyangkut individu, isnstitusi, situasi, bahkan mungkin juga ide. Keunikan unsur-unsur peristiwa itu menjadi bahan pertanyaan, mengapa? (why?). Oleh karena itu, keunikan peristiwa merupakan salah satu alasan bagi pemilihan topik penelitian sejarah.
3)      Perspektif Waktu
Penelitian dan penulisan sejarah mengacu pada periodisasi (pembabakan waktu). Peristiwa yang dikaji harus jelas ruang-lingkup temporalnya.
4)      Sifat Fakta
Penulisan sejarah harus berdasarkan fakta. Fakta sejarah adalah hasil seleksi atas sifat fakta (kuat atau lemah). Berarti tidak setiap fakta adalah fakta sejarah.


B.     FUNGSI SEJARAH
1.      Fungsi Umum
Fungsi umum sejarah adalah sebagai sumber pengetahuan. Sejarah (sebagai kisah) merupakan media untuk mengetahui masa lampau, yaitu mengetahui peristiwa-peristiwa penting dengan berbagai pemasalahannya.
Peristiwa-peristiwa yang menjadi obyek sejarah syarat dengan pengalaman penting manusia yang penting artinya sebagai pelajaran. Atas dasar itulah lahirnya motto atau slogan mengenai sejarah, seperti “Sejarah adalah obor kebenaran”, “Sejarah pedoman untuk membangun masa depan”, “Belajarlah dari sejarah”, dll. Bung Karno (alm.) berpesan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” (”JASMERAH”).
2.      Fungsi Khusus
Dalam fungsi umum itu terkandung fungsi khusus sejarah, yaitu fungsi sejarah secara lebih luas.Fungsi khusus sejarah dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.      Fungsi Intrinsik
a.         Sejarah sebagai ilmu
Sejarah sebagai ilmu yang terbuka, artinya siapa saja dapat mengaku sebagai sejarawan secara sah asal hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sebagai ilmu. Keterbukaan itu diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa sejarah menggunakan bahasa sehari-hari, tidak mengunakan istilah teknis.
b.        Sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau
Bersama dengan mitos, sejarah adalah cara untuk mengetahui masa lampau. Bangsa yang belum mengenal tulisan mengandalkan mitos dan bangsa yang sudah mengenal tulisan biasanya mengandalkan sejarah.
c.         Sejarah sebagai pernyataan pendapat
Banyak penulis sejarah menggunakan ilmunya untuk menyatakan pendapat. Misal, di Amerika Serikat ada dua aliran yang sama-sama menggunakan sejarah untuk menyatakan pendapat, yaitu consensus dan konflik. Disebut consensus, karena mereka berpendapat bahwa dalam masyarakat selalu ada consensus dan para sejarawan selalu bersikap konformistis. Sebaliknya disebut konflik, karena menekankan seolah-olah dalam masyarakat selalu terjadi pertentangan dan menganjurkan supaya orang bersikap kritis dalam berpikir tentang sejarah. Misal, perang saudara di Amerika adalah persengkongkolan kaum indutrialis dengan kaum politisi.
2.      Fungsi Ekstrinsik
Fungsi sejarah yang penting untuk dipahami adalah fungsi edukatif, mencakup :
a.         Pendidikan Nalar (penalaran)
Mempelajari sejarah secara kritis, atau menulis sejarah secara ilmiah, akan mendorong meningkatkan daya nalar orang yang bersangkutan. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
Pertama, sejarah sebagai ilmu menjelaskan latar belakang terjadinya suatu peristiwa. Ternyata penyebab terjadinya suatu peristiwa tidak hanya satu faktor, melainkan beberapa faktor yang saling berkaitan (kekuatan sejarah).
Kedua, sejarah sangat memperhatikan waktu (kronologis-diakronis). Berarti sejarah mendidik kita memiliki daya nalar untuk memperhatikan waktu dalam menjalani kehidupan (wal ashri).
Ketiga, sejarah harus ditulis berdasarkan fakta. Akan tetapi tidak setiap sumber memuat fakta, dan tidak setiap fakta adalah fakta sejarah. Berarti sejarah mendidik kita untuk memiliki daya nalar yang dilandasi oleh sikap kritis.
b.        Pendidikan kebijakan/kebijaksanaan
Peristiwa atau masalah tertentu, baik secara tersurat maupun tersirat menunjukkan adanya kebijakan atau kebijaksanaan. Kebijakan/kebijaksanaan di masa lampau sangat mungkin dapat dijadikan bahan acuan dalam menghadapi kehidupan di masa kini. Berarti sejarah memiliki fungsi pragmatis.
c.    Pendidikan politik
Sejarah mengandung pendidikan politik, karena peristiwa tertentu menyangkut tindakan politik atau kegiatan bersifat politik.
d.   Pendidikan mengenai masa depan
Dengan mempelajari sejarah secara baik dilandasi oleh sikap kritis, akan dapat memprediksi, bagaimana kira-kira kehidupan di masa depan. (”Sejarah pedoman untuk membangun masa depan”).
e.    Sejarah sebagai ilmu bantu
Sejarah sebagai pengetahuan dan ilmu dapat membantu menjelaskan permasalahan yang dikaji oleh ilmu-ilmu lain (antropologi, sosiologi, ekonomi, politik, hukum, dll.).
f.     Pendidikan moral
Jika pendidikan moral harus berbicara tentang benar dan salah, maka sejarah harus berbicara dengan fakta. Fakta sangat penting dalam sejarah, tanpa fakta tidak boleh bersuara.
g.    Sejarah sebagai pendidikan perubahan.
Pendidikan perubahan diperlukan olh para politisi ormas-ormas, usaha-usaha, bahkan pribadi-pribadi. Dalam era global sekarang tidak ada yang lebih cepat daripada perubahan. Sejarah adalah proses yang menyangkut perubahan. Pada dasarnya kehidupan manusia terus berubah, walaupun kadar perubahan dari waktu ke waktu tidak sama. Perubahan itu terjadi karena disengaja atau tidak disengaja.Sejarah bisa relevan dengan perubahan asalkan tidak mempelajari waktu yang terlalu jauh.
h.    Sejarah sebagai pendidikan keindahan
Pengalaman estetik akan dating melalui mata waktu kita antara lain dating ke monument, candi, istana dan membaca.


BAB II
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ilmu Sejarah memiliki arti penting bagi penelitian dan pengembangan kebudayaan. Arti pentingnya terletak pada beberapa hal.
1)        Karakteristik sejarah. Ilmu sejarah adalah ilmu tentang manusia, yaitu ilmu yang mempelajari pengalaman dan kiprah masnusia di masa lampau. Ilmu sejarah juga mengkaji hakekat dan makna peristiwa.
2)        Fungsi sejarah, baik fungsi umum maupun fungsi khusus.
Fungsi sejarah yang penting artinya bagi penelitian dan pengembangan kabudayaan terutama fungsi edukatif, yang mencakup pendidikan nalar, pendidikan moral, pendidikan kebijakan atau kebijaksanaan (kearifan), pendidikan perubahan, pendidikan untuk masa depan, dan sebagai ilmu bantu. Sejarah sebagai ilmu dapat membantu mempertajam pengkajian masalah sosial budaya. Oleh karena itu, slogan-slogan yang mengandung makna sejarah sebagai media pembelajaran, jangan hanya dipahami sebagai konsep atau teori, tetapi dilaksanakan sesuai dengan proporsinya. Dalam merealisasikan slogan-slogan itu hendaknya dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya pemahaman sejarah bagi kehidupan dan kiprah manusia, baik secara individu maupun kelompok atau kegiatan tertentu.

1 komentar: